shareurs

share knowledge for the bright future

Menikah Yuk..!

 

BUNYI status di wall saya beberapa waktu lalu menyedot banyak perhatian dari sahabat-sahabat yang masih berstatus “perjaka” atau “gadis” alias bujang mania. Bunyi lengkapnya, “Menyapa para bujangan, sudah 2012. Ayo lamar calon istri shalihahmu. Lamar juga calon suami shalihmu. Mintalah bantuan orangtua atau gurumu, sahabat boleh juga jika mampu. Genapkan setengah dari agamamu, insya Allah dimudahkan. Barakallahu fikum ajmain! *;-).”

Tidak kurang 70 komentar dan 176 jempol memberikan apresiasinya. Mereka seolah tersentak dan terbangun dari tidur pulasnya. Sebelumnya, saya menulis artikel di media ini dengan judul, “Menikahlah, Anda Akan Lebih Kaya!” (tulisan ini ada  di paragrap bawah)

Sebagian mungkin merasa dikompori dan diprovokasi untuk segera melangsungkan pernikahan, menikah dengan suami atau istri yang budiman. Membaca komentar yang mereka tuangkan, tergambar semangat membara, keinginan yang kuat, dan komitmen yang sangat. Yah, mereka begitu “bernafsu “ untuk segera menikah.

Sudah barang tentu, niat kuat dan semangat saja belumlah dapat merubah status mereka sebagai “jomblomania” kecuali mereka betul-betul “nekad” untuk menikah lewat pilihan orang tuanya atau pilihannya sendiri. Semangat teman-teman itu patut dihargai, mereka bertekad untuk memiliki pendamping hidup yang setia berbagi suka dan duka, dalam bahagia maupun sengsara, yang bersedia untuk membangun biduk rumah tangga.

Siapakah di antara kita yang ingin dikatakan sebagai bujangan yang tak kunjung menikah? Rasanya, tidak ada, kecuali ada yang “tidak beres” pada dirinya.

Jangankah mereka yang masih setia berstatus perjaka atau gadis, Imam Ahmad bin Hanbal sendiri tak kuasa hidup sebagai duda meski hanya satu hari. Tepat satu hari setelah kemangkatan istrinya, beliau menikah kembali. Kata orang sekarang, “Lho, kok beliau menikah lagi padahal makam istrinya masih belum kering?”

Imam Ahmad berkata, “Aku tidak ingin dikatakan orang sebagai duda tanpa istri, karena berarti aku telah meninggalkan sunnah Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  .”

Dalam sebuah anekdot ada seorang istri terus-menerus menangis di pusara suaminya yang masih basah. Karena merasa kasihan, seseorang berkata kepadanya; “Sudahlah. Ikhlaskan saja kepergian suamimu. Bersabarlah.” Lalu, si wanita dengan air mata yang masih membasahi pipinya ini mengatakan, “Bagaimana saya tidak menangis, saya pengen nikah lagi, tapi sebelumnya telah terlanjur berjanji kepada mendiang suami saya untuk tidak menikah sebelum pusaranya kering. Nah, sekarang ini kan lagi musim hujan, terus kapan keringnya?”

Para bujangan, ketahuilah bahwa pernikahan adalah sunnah para Rasul, sebagaimana yang Allah firmankan;

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجاً وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

“Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS. 13 : 38).

Dan Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  juga bersabda, “Empat perkara yang termasuk sunnah para Rasul, yaitu rasa malu, memakai wangi-wangian, bersiwak, dan menikah.” (HR. Tirmidzi).

Islam memandang bahwa menikah sebagai suatu amal ibadah yang mempunyai banyak maslahat dan kebaikan. Hikmah menikah antara lain: panggilan fitrah manusia dalam memenuhi kebutuhan biologis, sarana untuk meraih ketentraman jiwa, sarana untuk mengembangkan keturunan, dan sebagai sarana untuk menghindari terjadinya dekadensi moral.

Pernikahan merupakan salah satu faktor penting dalam meraih kebahagiaan. Aktris terkenal. Brigette Bourdot, berpandangan, “Puncak kebahagiaan manusia adalah pernikahan. Ketika kulihat seorang wanita bersama suami dan anak-anaknya, aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa aku tidak memperoleh anugerah seperti ini?”

Seorang penyair berkata, “Bagaimana rasanya kehidupan tanpa kekasih yang menenangkan dan menemtramkan?” Hidup membujang, bisa seperti lirik sebuah lirik lagu, “Masak… masak sendiri, Makan…makan sendiri, cuci baju sendiri, tidurku sendiri..” Seorang filosof terkenal Socrates memberi nasihat kepada muridnya yang takut menikah karena melihat kesengsaraan rumah tangga sang guru. Socrates mengatakan, “Dalam kondisi apapun, engkau tetap harus menikah. Jika engkau mendapatkan istri yang baik, engkau akan berbahagia. Jika engkau mendapatkan istri yang menjengkelkan, engkau akan menjadi orang yang bijaksana.” Singkatnya, keduanya menguntungkan kamu.”

Ingat baik-baik pesang Bang Haji Rhoma Irama yang satu ini, “Tapi susahnya menjadi bujangan, Kalau malam tidurnya sendirian, Hanya bantal guling sebagai teman, Mata melotot pikiran, melayang.  O, bujangan … bujangan, Bujangan … bujangan.”

Wahai para bujangan, sudahkan kalian siap melepas status saat ini sebagai bujangan?*

Menikahlah, Anda Akan Lebih Kaya!

PADA saat saya hendak menikah, saya rutin datang ke sebuah pengajian yang diasuh oleh alumni pesantren milik Prof. Dr. Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki-Makkah, Ustad Muhammad bin Idrus Al Haddad. Selesai pengajian para jamaah bersalaman mencium tangan sang ustad satu persatu, termasuk diri saya.

Saat saya bersalaman dengannya, beliau yang sebelumnya telah mengetahui rencana pernikahan saya, memberikan suntikan semangat untuk jangan takut dalam menghadapi kehidupan berumah tangga, utamanya dalam soal rezeki. Kata beliau, “Kalo ente mau kaya, ya menikahlah,” ujarnya sembari mengutip hadits Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), “Carilah rezeki lewat jalan nikah.”

Ungkapan beliau membuat saya optimis menyongsong hari H pernikahan, namun yang masih menjadi ganjalan di hati, seperti apa bunyi lengkap hadits tersebut?
Kurang lebih dua tahun saya mengakrabi buku-buku yang berbicara tentang bagaimana berumah tangga yang baik, menjadi suami yang baik, menjadi istri yang baik, dan sebagainya, tapi tak juga mememukan hadits yang dimaksud.

Sampai suatu ketika ketika ada Islamic Book Fair di awal bulan Desember, saya mengunjungi stan buku “Darul Kutub Al-Islamiyah”, di situ saya memborong beberapa buah buku, salah satunya berjudul “Tanqiihul Qaul fi Syarhi Lubaabil Hadits”. Kitab ini merupakan Syarah kitab Imam Suyuthi berjudul “Lubaabul Hadits”, yang ditulis oleh Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Setelah saya “obok-obok” sejenak daftar isinya, mata saya tertuju pada sebuah sub judul yang berbunyi “Fi Fadhiilatin Nikaah” (Keutamaan menikah) yang terletak di bab ke-limabelas halaman 104.

Saya buka dan alhamdulillah, rasa penasaran yang menggelayut di benak tentang bunyi hadits yang disampaikan oleh Ustad Muhammad di atas, menjadi sirna seketika. Ya, saya berhasil menemukannya!

Bunyi lengkapnya, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  bersabda, “Iltamisur Rizqa Bin Nikaah.” Menurut Syeikh Nawawi, sang komentator kitab ini, “Sesungguhnya menikah itu mendatangkan keberkahan dan mengalirkan rezeki, bila niatnya telah benar.” Hadits ini diriwayatkan oleh Dailami dari Sayidina Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Selain itu, saya juga membaca hadits lainnya dalam bab yang sama yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Bunyinya, “Tazawwajuu Ya`tiyannakum bil Amwaal.” (Menikahlah, niscaya Allah akan mendatangkan pundi-pudi harta kepada kalian).

Dalam lafad hadits yang lain, “Ar Rizqu Yazdaadu bin Nikaah (rezeki akan semakin bertambah dengan menikah).”

Sungguh kenyataan yang membuat hati saya bergembira tak terkira.
Mengapa?

Pertama, karena mendapatkan ilmu yang memantapkan hati saya dalam berumah tangga yang baru berjalan 2 tahun lebih ini.

Jujur saja, saya sebelumnya sempat bimbang bahkan pusing tujuh keliling soal yang satu ini, nafkah.

Sebelum menikah, saya terkadang masih mendapat “subsidi” dari sang bunda untuk memenuhi kebutuhan kuliah, bensin, SPP, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Tak terbayangkan, jika saya menikah kelak, apakah saya sanggup mengatasi kegamangan soal nafkah.

Kedua, saya telah membuktikan sendiri. Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎), setelah menikah saya memiliki rumah sendiri tinggal bersama istri dan anak semata wayang, mampu membeli laptop yang harganya berkisar 4-5 jutaan. Saya bahkan mampu membeli sepeda motor yang kedua kalinya, meski mencicil.

Di luar nalar dan akal saya, begitu ajaibnya, tak terhitung sudah berapa kali saya PP Malang-Banjarmasin untuk mengantarkan istri pulang kampung.

Bagi saya, dengan kemampuan financial (keuangan) yang saya miliki, sesungguhnya saya belum mampu melakukan itu semua.

Ketiga, kenyatan ini dapat memberikan dorongan kepada pemuda yang ragu-agu untuk menikah, agar segera lekas melangsungkannya. Soal rezeki, Allah pasti telah menjadwalkannya dengan sangat teliti.

Kembalikan pada keyakinan di hati kita, bahwa rezeki itu bukan dari kita, tapi dari Allah selagi kita mau berusaha dan beikhtiyar.

Menikah benar-benar mendatangkan keberkahan, mengalirkan rezeki, dan pundi-pudi harta.

Hindari Keraguan

Hanya saja, sering kali para pemuda/pemudi menunda-nunda menikah dengan berbagai alasan yang beragam. Di saat hati terus ditima keraguan, di saat yang sama, sesungguhnya umur terus bertambah.

Untuk menghilangkan keraguan dan mengokohkan niat, marilah kita ingat, bahwa sesungguhnya tujuan dari menikah sesungguhnya adalah ibadah.

Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎) berfirman;

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur [23] : 32).

Dari  banyak buku, telah saya dapati banyak hadits Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  mengenai anjuran menikah.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  bersabda.

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.”

Rasulullah  Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)  juga pernah bersabda;

“Barangsiapa yang dipelihara oleh Allah dari keburukan dua perkara, niscaya ia masuk Surga: Apa yang terdapat di antara kedua tulang dagunya (mulutnya) dan apa yang berada di antara kedua kakinya (kemaluannya).” 

Betapa baiknya Allah Subhanahu wa-ta’ala (سبحانه و تعالى‎). Menikah membuat kita senang dan gembira, dijamin “kaya” dan dijanjikan surga. Lantas, apa yang masih menjadi ganjalan Anda semua untuk menikah?*

Penulis staf pengajar di Ponpes. Darut Tauhid, Malang- Jawa timur (hidayatullah.com)

Majlis walimah yang benar dalam Islam Oleh Habib Ali Al-Jifri Yaman

Fattabiouni – Tips-tips akhlaq Terhadap Isteri cara Rasulullah S.A.W

January 16, 2012 - Posted by | Muslim Box |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: