shareurs

share knowledge for the bright future

Kisah Manohara: Ada di Relief Candi Borobudur

manohara1MAGELANG, KOMPAS.com — Kisah model Manohara Odelia Pinot yang melarikan diri dari Kerajaan Kelantan, Malaysia, saat berada di Singapura, Minggu (31/5), menghiasi media cetak dan elektronik beberapa hari ini. Namun siapa sangka kasus Manohara ini mirip dengan kisah Putri Manohara yang terpahat di relief Candi Borobudur.

“Sejak awal kasus Manohara mencuat ke publik, para pemandu di Borobudur mendiskusikan, ada kesamaan nama ‘Manohara’ di relief candi. Kasus itu menjadi bahan cerita aktual kami kepada wisatawan,” kata Hatta, salah seorang pemandu wisata Candi Borobudur.

Kemungkinan memang ada kesamaan pesan antara cerita duka yang dialami Putri Manohara sebagaimana yang terpampang di deretan relief di sebelah barat Candi Borobudur, di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu dengan kisah duka Manohara Odelia Pinot (17), keturunan dari perempuan bangsawan Bugis, Sulawesi Selatan, dengan pria berkebangsaan Perancis itu.

Manohara Pinot, anak kedua dari pasangan Daisy Fajarina dengan Reiner Pinot Noack itu, belum lama ini berhasil melarikan diri dari kehidupannya di istana Kerajaan Kelantan, Malaysia dan pulang ke Indonesia.

Setelah pernikahannya pada tanggal 26 Agustus 2008 dengan Tengku Muhammad Fakhry, Sang Pangeran Kerajaan Kelantan, Manohara dikabarkan hanya sebentar menikmati bulan madu bersama suaminya.

Menurut cerita Manohara, Fakhry sering kali melakukan kekerasan terhadap dirinya. Kini Manohara Pinot telah berada di pangkuan ibu tercintanya di Jakarta. Daisy dengan Reiner sendiri telah bercerai sejak beberapa waktu lalu.

Manohara Pinot mengaku bekas luka di bagian tubuhnya akibat siksaan suaminya masih ada. Pihaknya akan memproses secara hukum atas kekerasan yang dilakukan suaminya kepada dirinya. Pengakuan tindak kekerasan yang dialaminya diwartakan berbagai media massa di Indonesia.

Budayawan Borobudur, Ariswara Sutomo, mengatakan relief Putri Manohara di relief candi Buddha terbesar di dunia itu menuturkan perlakuan buruk keluarga mertuanya di suatu kerajaan, tempatnya tinggal, yang membuat dirinya pulang ke Kerajaan Manusia Burung.

Putri Manohara yang ada di relief deretan bawah, di dinding utama sebelah barat, di lorong lantai dua Candi Borobudur itu digambarkan sebagai putri berwajah cantik dengan dua kaki burung. “Cerita asli Putri Manohara itu ada di Buku Jataka-Avadana,” katanya.

Seorang pemburu bernama Halaka, katanya, dikisahkan menangkap dengan jaring istimewa manusia burung di sebuah permandian. Manusia burung yang tampak cantik itu adalah putri dari Kerajaan Manusia Burung yang bernama Manohara.

Seorang pangeran menukar Putri Manohara dengan suatu hadiah melimpah kepada Halaka. Dikisahkan, Manohara hidup bahagia sebagai istri Sang Pangeran. Tetapi, pihak keluarga mertuanya tidak suka dengan Putri Manohara. Ibu mertuanya itu menjadi otak bencana duka bagi kehidupan Putri Manohara.

Saat Sang Pangeran mendapat tugas berperang melawan musuh di garis terdepan, Putri Manohara diusirnya dari kerajaan itu. Dia lalu pulang ke kampung halamannya di Kerajaan Manusia Burung, sambil mengusung segala dukanya.

Suaminya yang pulang dari medan peperangan sedih karena tidak menjumpai isteri tercintanya di istana. Ia lalu menemui Halaka untuk mencari Manohara.

Halaka dikisahkan tidak mengetahui tempat tinggal Putri Manohara. Ia hanya memberitahu Sang Pangeran bahwa dirinya sering menjumpai sekumpulan manusia burung di suatu telaga.

Pangeran pun kemudian mencari Putri Manohara di telaga itu. Dia hanya menemukan beberapa manusia burung dan tidak ada Manohara di tempat itu. Ia kemudian menitipkan sebuah cincin perkawinannya kepada salah seorang di antara sejumlah manusia burung untuk disampaikan kepada Putri Manohara.

“Ceritanya, semula Putri Manohara takut kembali kepada Sang Pangeran, namun demi kesetiaannya sebagai istri, ia lalu memutuskan kembali kepada suaminya. Cerita itu berakhir dengan relief yang menggambarkan kebahagiaan Putri Manohara,” katanya.

Kisah Manohara Pinot memang sampai saat ini belum berakhir dengan suatu kebahagiaan sebagaimana Putri Manohara di relief Borobudur. Kembali ke pangkuan ibundanya, Daisy, mungkin melegakan Manohara Pinot. Tetapi, luka batin akibat tindak kekerasan suaminya mungkin masih bernanah.

“Kisah penderitaannya mungkin sama,” kata Ariswara yang juga penulis buku Temples of Java itu.

Menurut dia, ada kemungkinan orangtua Manohara Pinot memberi nama putrinya “Manohara” berdasarkan pengetahuannya tentang cerita yang ada di dalam salah satu kitab buddhis itu.

Kisah Putri Manohara, katanya, tentu dikenal di negara-negara dengan penduduk mayoritas pemeluk Buddha seperti India, Tibet, Thailand, dan di Candi Borobudur yang dibangun di antara Kali Elo dengan Progo, Kabupaten Magelang, sekitar abad ke-8 masa Dinasti Syailendra itu.

Pengelola kepariwisataan Candi Borobudur, PT Taman Wisata Candi Borobudur, juga menggunakan “Manohara” sebagai nama hotel yang berada di dalam kompleks taman itu.

Hatta yang juga Sekretaris Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Magelang itu mengaku, sebagian besar rombongan pelajar yang berwisata di Candi Borobudur akhir-akhir ini menanyakan tentang kisah Putri Manohara karena adanya kesamaan nama dengan mantan model itu.

“Banyak pelajar yang tahu kalau ada cerita Putri Manohara di Candi Borobudur, mereka menanyakan dan kami menuturkan sebagai tautan aktual atas kisah Sidarta Gautama yang menjadi lakon dari cerita Candi Borobudur,” katanya.

Kini kepariwisataan Candi Borobudur memasuki musim kunjungan pelajar yang mengisi liburan sekolah tahun 2009.

Ia mengaku, relatif tidak banyak wisatawan mancanegara yang bertanya tentang kisah Putri Manohara di Candi Borobudur. “Ada peningkatan intensitas cerita Manohara kepada wisatawan Nusantara, mungkin karena sesama Indonesia, mereka lebih memperhatikan adanya kesamaan nama itu,” katanya.

Kalangan pemandu wisata Candi Borobudur, katanya, umumnya mengedepankan tentang kisah percintaan Putri Manohara dengan Sang Pangeran kepada para wisatawan.

Namun, katanya, pesan moral yang ingin disuguhkan pemandu wisata Candi Borobudur kepada wisatawan adalah relatif banyaknya pengalaman di masyarakat hingga saat ini tentang konflik antara menantu dengan keluarga mertuanya. Kebanyakan orang tua tidak suka dengan menantunya.

“Untuk pasangan muda-mudi yang berwisata di Borobudur akhir-akhir ini meneguk pelajaran nilai atas tragedi Manohara. Kisah Putri Manohara dan Manohara Pinot adalah pelajaran hidup berkeluarga. Hidup berpasangan suami istri tentu harus didasari saling cinta yang sejati,” kata Hatta.

Kompas.com

June 3, 2009 - Posted by | News

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: