shareurs

share knowledge for the bright future

Hari Perzinahan Sedunia adalah Valentine`s day

Ada 2 malam dimana tingkat kemaksiatan begitu tinggi, yang pertama yaitu malam perayaan tahun baru dan yang kedua adalah malam Valentine. Malam perayaan tahun baru menduduki peringkat pertama karena meliputi semua segmen tua, muda, jomlo dan non jomblo, atau dengan kata lain siapa saja boleh merayakannya, malam perayaan tahun baru ini biasanya diwarnai oleh acara yang bersifat hura-hura dan tidak ketinggalan juga pesta miras, narkoba, perzinahan dan aneka rupa kemaksiatan lainnya. Posisi kedua ditempati oleh perayaan valentine, yang ini hanya dirayakan oleh yang punya pasangan saja. Konon pada malam ini tingkat hunian hotel meningkat, begitupun dengan penjualan alat kontrasepsi. Dengan dalih kasih sayang, para wanita rela melepas virginitasnya pada malam ini. Urut-urutannya mungkin ada yang seperti ini, awalnya sekedar bernyanyi-nyanyi dengan lagu-lagu karaoke. Atau, karena hari masih sore pasangan muda mudi itu jalan-jalan dulu dengan sepeda motor kelilling kota. Setelah itu, orang bisa percaya bisa tidak bahwa apa yang mereka lakukan sudah tidak lagi dibatasi oleh norma-norma agama.
Selain merayakan dengan perzinahan , mereka juga merayakan ritual lainnya dengan alkohol dan obat-obatan terlarang. Kalau begitu dimana rasa cinta & kasih sayang mereka pada diri mereka dan orangtua yang telah berharap banyak pada mereka?, atau inikah potret lumrah remaja di zaman globalisasi ini?. Globalisasi ataukah GOBLOKLISASI ?.
Menjelang detik-detik perayaan Valentine di 2009 ini, ingatanku tentang Jakarta makin menguat. Jakarta adalah ibukota Muslimin terbesar di dunia ini (sayangnya panggung dzikir dan shalawat masih kalah sama panggung-panggung musik), dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia tingkat kemaksiatan di kota ini paling tinggi, tapi Alhamdulillah bencana sekaliber tsunami dan gempa bumi tidak terjadi di ibukota Muslimin terbesar di dunia ini. Menurut salah seorang dai berdakwah di Jakarta, hal ini terjadi karena di Jakarta banyak terdapat majelis dzikir dan shalawat sehingga inilah benteng dari kemurkaan ilahi.
Lalu bagaimanakah dengan kota Makassar ini?, dengan jumlah majelis dzikir yang tentunya lebih sedikit dari Jakarta, dan jangan-jangan dari malam valentine ke malam valentine berikutnya tingkat kemaksiatan di kota ini makin meningkat, dan hal ini suatu saat akan mengundang bencana di kota ini, bisa saja dengan tsunami, gempa bumi dan bencana lainnya. Mudah-mudahan warga Makassar mempunyai kemampuan untuk membedakan antara yang haq dan yang batil dan ketika sudah mengetahuinya dapat menjalankan yang haq dan menjauhi kebatilan sehingga tingkat menurun dan menjauhkan kota ini dari berbagai bencana dan musibah, semoga. Dalam hal perayaan valentine, masyarakat tinggal memilih apakah lebih mengutamakan kesucian hati dan jasmani atau kesesatan yang terselubung dalam kemanisan cokelat Valentine?

Indonesian Community

February 16, 2009 - Posted by | Muslim Box

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: